Kamis, 19 Oktober 2017

Jam Tangan Idaman

Blog

Setiap orang pasti memiliki kriteria pada sesuatu hal yang ingin dimilikinya. Entah itu pasangan hidup, ataupun hanya sebuah benda. Begitu juga gue, yang memiliki kriteria jam tangan idaman.

Sudah 3 bulan ini (mungkin lebih) jam tangan gue hilang. Ini berarti gue harus beli baru lagi (kecuali ada yang mengikhlaskan jam tangan kerennya buat gue). Untuk pembelian ketiga kalinya ini, gue harus memilih dengan baik jam tangan mana yang sesuai kriteria gue.

Ya sebenarnya jam tangan yang hilang ini sudah hampir memenuhi kriteria jam tangan idaman. Hampir lho ya, jadi ya lumayan seneng juga sih jam tangannya ilang. Hehehe..

Memangnya apa aja sih kriteria jam tangan idaman gue ini?

Belum paten kok. Cuma kriteria sementara untuk sekarang ini. Siapa tau nanti gue mau kriteria yang lebih uye lagi. Ini kriteria jam tangan idaman gue :

1. Jam Digital-Analog atau Digital
Yang gue inget, jam yang pertama kali gue miliki itu Analog. Gue anggap kalian sudah tau arti analog. Gue nggak terlalu seneng jam seperti ini. Karena tidak menunjukkan waktu secara tepat dan detil beserta satuan detiknya.

Cuman ya kelebihannya jam analog itu cukup lihat sekilas saja sudah tau jam berapa. Beda dengan digital yang perlu waktu sedikit lebih lama untuk melihatnya. Karena terkadang rancu antara angka 0 dan 8. Belum lagi otaknya loading dulu mikir 18.30 itu setengah 7 atau setengah 9. Gue sering begini.

Kalau gue pake jam analog, nanti gue nggak bisa hitung mundur bel pulang sekolah dengan tepat (ini hobi gue pas SMA). Makanya gue milih digital.

2. Tahan Air
Tahan air yang gue maksud adalah bisa dipake mandi tanpa menyebabkan efek samping bagian dalamnya ngembun. Banyak temen-temen gue yang jam tangannya seperti itu. Tulisannya water resist berapa m gitu, tapi kehujanan ngembun. Mungkin karena udah pernah dibuka buat ganti baterai.

Gue nggak mau ribet lepas jam tangan kalo misalnya tiba-tiba kehujanan ataupun mau cuci tangan. Ribet. Takutnya abis dilepas lupa dipakai lagi. Kalo ada jam tangan yang tahan air, kenapa nggak dipilih? Ya kan?

3. Strap Yang Tidak Mudah Rusak
Ada banyak macam jenis strap di dunia per-jam tangan-an. Yaitu karet, jahitan, kulit, besi, dan jenis strap lain yang nggak gue ketahui. Kebanyakan strap yang dipakai untuk jam sport adalah karet.

Jam gue yang hilang ini strap-nya termasuk jenis karet. Dan hanya dalam durasi 3 tahun sudah rusak beserta strap cadangannya juga. Untuk target jam tangan baru ini, gue mau mencoba yang dari jahitan. Kalaupun rusak bisa diganti tali paracord.

4. Ukuran Pas
Sebenarnya kalo gue memakai jam ukuran kecil ya tangan gue merasa nyaman-nyaman saja. Yang nggak nyaman itu mata saya. Nanti malah gue kira gelang. Mata minus 3 ya begini nih.

Gue juga nggak suka jam yang kegedean ukurannya. Itulah sebabnya gue nggak pake jam Big Ben di tangan. Bagaimana dengan Anda?

5. Hari dan Tanggal Otomatis
Jam tangan gue yang hilang kemarin sudah ada fasilitas ini. Hari dan tanggal otomatis tanpa harus mengatur ulang setiap bulannya.

Hari, tanggal, bulan dan tahun yang cocok tanpa harus diatur lagi. Seperti sudah tau kalo Januari itu 31 hari, Februari itu 28/29 hari. Malah gue yang sering lupa sebulan itu berapa hari, harus hitung pake tangan dulu. Gue merasa primitif.

Kriteria ini gue masukkan karena gue juga sering lupa hari ini tanggal berapa. Tidak efisien kalau harus ngeluarin HP dulu dari kantong celana. Kalo sudah ada di jam tangan, kita bisa menghemat sekitar 3 detik.

-----------

Ya, itu aja sih kriterianya. Untuk kriteria yang terakhir tidak terpenuhi bukan masalah. Yang penting 4 kriteria sebelumnya terpenuhi.

Hanya saja, sampai sekarang gue belum menemukan jam tangan idaman saya itu. Budget-nya nggak kuat. Minimal 250ribu biar dapet sesuai kriteria.

Ada yang tau tipe dan merk apa jam tangan yang sesuai sama kriteria gue? Atau kalian punya kriteria jam tangan sendiri? Share aja di komentar.

Jumat, 13 Oktober 2017

#BahasLagu Barasuara - Hagia

Setelah postingan pertama saya dalam segmen #BahasLagu kemarin, saya pun nggak sabar ingin membahas lagu favorit saya selanjutnya. Bolak-balik scroll lagu-lagu yang berderet rapi di playlist, dari band yang berawalan huruf A sampai Z. Memilih lagu apa yang cocok.

And finally, saya pun memilih salah satu lagu dari band favorit saya, yaitu Barasuara yang berjudul Hagia. Ini adalah lagu dengan durasi dan lirik terpendeknya Barasuara. Nggak tau kenapa, lagu bagus menurut saya kok durasinya pendek. Sebagai contoh ya Cancer-nya My Chemical Romance.

Hagia. "Kok judulnya agak aneh ya?", komentar saya waktu itu.
"Kok bukan Bahagia ya?"
"Apa ini salah ketik?"
Tapi, bukan Iga Massardi namanya kalo tidak memberi judul lagu yang unik seperti ini. Langsung aja dibahas, ini lirik lagu dan videonya:


BARASUARA - HAGIA

Sempurna yang kau puja, dan ayat-ayat yang kau baca
Tak kurasa berbeda
Kita bebas untuk percaya
"Seperti kami pun mengampuni, yang bersalah kepada kami"
---------------------

Waktu itu saya penasaran banget dengan maksud judul lagu ini apa. Dan google pun menjadi pilihan. Hagia. Yang dimaksudkan pada sebuah tempat bernama Hagia Sophia yang terletak di Istanbul, Turki. Sebuah gereja, yang kemudian beralih fungsi menjadi masjid, dan sekarang menjadi museum wisata religi.

Bisa dibilang Hagia Sophia adalah simbol pertemuan Kristen dan Islam. Pas banget dengan isi lagunya yang bercerita tentang toleransi beragama. Bisa dilihat dari penggalan liriknya.

Dan Barasuara telah membuktikan indahnya toleransi beragama itu sendiri. Mereka berbeda kepercayaan, tapi ketika menyatu dapat menghasilkan karya yang keren banget. Seakan-akan mereka berkata "nih lihat, toleransi itu indah bro".

Jangan seperti Isis, mengatasnamakan agama Islam, meneror orang-orang yang nggak punya salah ke mereka. Padahal nggak kenal. Nggak tau deh karena mereka tolol apa gimana. Jangan pula seperti biksu-biksu brengsek di Myanmar sana, orang beragama tapi perilakunya kayak ***** (kena sensor).

Ya mau gimana lagi, pada dasarnya ada putih pasti ada hitam. Ada baik, ada buruk. Sama seperti warna, untuk membentuk putih pun harus menyatukan warna-warna lain. Untuk menyatukan warna-warna lain itulah dibutuhkan toleransi.

Oke, balik ke lagu. Masuk ke baris terakhir lagu ini. Keren banget. Iga Massardi disini dengan berani memasukkan penggalan ayat Doa Bapa Kami. Yang dia bilang bahwa itu ayat favoritnya. Maknanya dalam banget.

Bicara soal musik, pertama kali saya denger lagu ini, komentar saya lagi-lagi "kok aneh banget lagu ini". Diawali dengan gebukan drum yang unik dari Marco. Tidak memberikan tempo yang konstan seperti nggebuk drum pada umumnya. Saya sebut variasi aja lah ya. Saya nggak ngerti namanya apa.

Dan juga nggak full seperti biasanya, tapi gebukannya sedikit-sedikit berhenti. Dengerin sendiri aja deh pokoknya. Tapi, entah mengapa justru akhirnya menjadi part favorit saya di lagu ini.

Kemudian lirik awal masuk (sebelum penggalan ayat Doa Bapa Kami), lalu gitar mulai mengisi. Makin lama tensinya makin naik. Dan bum, puncaknya di penggalan ayat Doa Bapa Kami tadi.

Hagia ini adalah salah satu lagu favorit saya, karena maknanya dalem banget. Harapan agar setiap manusia saling toleransi, menghargai perbedaan apapun itu. Toleransi, bukan telorasin. Sampai jumpa di #BahasLagu berikutnya.

#BahasLagu Muse - Unintended

Halo, gue udah lama nih nggak posting di blog ini. karena bingung mau nulis apa, nggak ada ide mau nulis apa. Akhirnya ide yang dicari datang juga. Nggak sia-sia meditasi (baca: ngelamun) yang gue lakuin selama ini.

Nah, setelah perlamunan yang kesekian kalinya, muncullah sebuah ide, yaitu membahas lagu-lagu favorit gue. Wah, gue jadi excited banget waktu itu. Karena dengerin lagu udah jadi hobi. 3 kali sehari, setelah makan. Udah kayak minum obat. Jadi kalo dipikir-pikir, bahannya banyak banget. Yes!

Nah, segmen membahas lagu favorit gue ini gue beri judul #BahasLagu. Awalnya sih mau pakai #BedahLagu, tapi istilah itu terlalu medis.

Sebagai pembukaan #BahasLagu ini, gue pilih lagu dari salah satu band favorit gue (karena band favorit banyak), Muse, yang judulnya Unintended.

Judul yang cukup ribet. Bisa bikin lidah kram. Karena lagu ini pertama kali gue tau dan gue dengar pas SMP. Dan lagi, kemampuan bahasa inggris gue pas-pasan banget di zaman itu. Sekarang juga masih dong. Wahaha (kok bangga banget ya? -_-).

Lagu Unintended, dari semua lagu Muse, ini yang paling gampang dimainkan. Chord intronya E B7. Terusannya cuma E Am D G C B7 E. Gitu aja terus, sampe Doraemon jadi adiknya Shinchan.

Lalu, apa kerennya lagu ini? Ya keren bangetlah pokoknya. Si vokalis, Matt Bellamy, yang biasanya bikin lagu penuh distorsi, di lagu ini jadi melow galau. Walaupun susunan chord yang dipake aneh, tapi lagunya easy listening banget. Pas banget buat suasana hati yang sedang galau. Atau bisa juga untuk lagu pengantar tidur.

Tapi, sebenarnya lagu ini bercerita tentang apa sih?
Oke, mari kita lihat video dan liriknya:


MUSE - UNINTENDED

Verse 1
-You could be my unintended choice
Kau mungkin kan jadi pilihan tak
terdugaku
-to live my life extended
untuk menemani hari-hariku
-You could be the one
Kau mungkin kan jadi satu-satunya
-I'll always love
Yang kan selalu kucinta

Verse 2
-You could be the one who listens to
Kau mungkin kan jadi satu-satunya yang mau mendengarkan
-my deepest inquisitions
Segala tanyaku
-You could be the one
Kau mungkin kan jadi satu-satunya
-I'll always love
Yang kan slalu kucinta

Chorus
-I'll be there as soon as I can
Aku kan datang secepat mungkin
-But I'm busy mending broken pieces of the life I had before
Namun, kumasih merajut kepingan hidupku sebelumnya
**(Before you)**
**(Sebelum dirimu)**

Verse 3
-First there was the one who challenged
Mulanya, ada seseorang yang menentang
-All my dreams and all my balance
Semua mimpi dan keseimbanganku
-She could never be as good as you
Dia takkan mungkin sebaik dirimu

----------------

Banyak sekali perdebatan dalam memaknai lagu ini. Itupun gara-gara judulnya. Ada yang bilang Unintended ini berarti "Yang Tak Diharapkan" atau bisa juga "Yang Tak Direncanakan". Tapi, ada juga yang mengartikannya menjadi "Calon Istri / Tunangan".

Gue lebih prefer ke terjemahan yang pertama. Karena di depan kata intinya menggunakan "Un". Yang kurang lebih artinya "bukan / tidak". Seperti yang digunakan pada judul-judul lagu Muse yang lain yaitu Undisclosed, Unnatural, dan Unsustainable.

Udahlah nurut aja ya, biar gue nggak pusing.
Terjemahan:
Udahlah nurut aja, daripada saya bacok.

Di lagu ini ada 3 tokoh, yaitu 'Aku', 'Kau' dan 'Dia' (kayak judul lagunya Dhani ya). Di lagu ini 'Aku' menceritakan kelebihan-kelebihan 'Kau'. Dari awal sampai selesainya lagu.

Bahkan bagi 'Aku', si 'Kau' ini lebih baik dibandingkan 'Dia'. Terbuktikan di lirik "She could never be as good as you".

Di Chorus, 'Aku' mengatakan bahwa akan bersama 'Kau' secepatnya. Tapi butuh waktu, karena 'Aku' masih hancur karena hubungan yang sebelumnya, yaitu dengan 'Dia'.

Karena inilah mengapa disebut Unintended. Si tokoh 'Aku' ini masih hancur karena hubungannya dengan 'Dia'. 'Aku' belum berencana membina hubungan baru lagi, tapi tanpa diduga si 'Kau' ini datang. Bisa dibilang masih merasa kapok untuk membina hubungan lagi. Belum bisa move on.

Secara singkatnya, 'Aku' suka sama 'Kau' daripada 'Dia', tapi 'Aku' belum siap menjalin hubungan baru.

Kurang lebih seperti itu maknanya menurut gue. Dan ini diluar rumor tentang 'penelepon gelap' yang sering diceritakan di berbagai blog di luar sana. Gue memaknainya sesuai dengan lirik yang ada.

Entah benar atau tidaknya ini, tetapi Ariel Noah pernah berkata
"Pendengar memiliki kebebasan untuk memaknai lagu. Sesuai dengan mimpinya."

Yah, asal memaknai lagunya nggak ngawur dan melenceng jauh dari yang dimaksud sih.

Oke, cukup sekian. Sampai jumpa di segmen #BahasLagu selanjutnya.