Breaking News
recent

Aku Wong Jowo


Beberapa waktu lalu, saya seneng banget setelah Youtuber idola saya, Bayu Skak, akan merilis film pertama yang ditulis, diperankan, serta disutradarainya ini. Judulnya Yowis Ben yang tayang pada tanggal 22 Februari 2018.

Selain Bayu Skak, film Yowis Ben juga akan menampilkan para komedian dan aktor Indonesia seperti Joshua Suherman, Brandon Salim, Cut Meyriska, Arief Didu, Yudha Keling, Uus dan masih banyak lagi.

Jadi, film ini mengambil genre drama komedi romantis, dan full menggunakan bahasa Jawa. Lebih tepatnya bahasa Jawa Timuran. Sekedar Info nih guys, bahasa Jawa di Jawa Timur, dengan bahasa Jawa di Jawa Tengah itu beda lho. Seperti misalnya logat ngapak dan medok, logatnya berbeda padahal sama-sama bahasa Jawa. Oke, itu saja infonya.

Tapi tak berselang lama setelah trailernya meluncur, banyak komentar-komentar negatif dari netizen. Lalu, Bayu Skak pun merilis video YouTube terbarunya yang berjudul Aku Wong Jowo (Aku Orang Jawa). Hal tersebut dilakukan untuk menanggapi komentar-komentar negatif dari para netizen. Seperti ini komentarnya :



Maha Benar Netizen dengan Segala Komentarnya. Saya merasa heran, lucu, dan juga marah. Mereka mempermasalahkan bahasa yang akan digunakan dalam film tersebut. Bahkan tidak sedikit juga yang mengarah ke rasis. (Jancuk kon sing garapane rasis)

Yang membuat saya heran, kok ya masih ada orang rasis seperti ini. Sudah tahun 2018, tapi kok nggak ada kemajuan sama sekali. Di gambar tersebut, ada salah satu orang yang mengatakan bahwa bahasa Jawa adalah bahasa kampung. Oke, saya tidak akan memprotes hal itu, memang bahasa Jawa adalah bahasa kampung. Tapi, bahasa kampung bukan hanya bahasa Jawa saja kan?

Dan perlu dicamkan baik-baik, bahwa orang kampung tidak selalu kampungan. Tapi kalo orang rasis, itu sudah pasti kampungan.

Yang lucu adalah yang mempermasalahkan bahwa membuat film menggunakan bahasa Jawa itu tidak general. Alasan yang sangat tidak masuk akal. Film Korea, Jepang, China, dan Thailand nyatanya bisa dinikmati oleh masyarakat Indonesia. Padahal bahasa negara-negara tersebut adalah bahasa yang jarang dipakai orang Indonesia. Contohnya film Pee Mak Phrakanong. Mereka menggunakan bahasa Thailand (yang notabene bukan bahasa Universal di ASEAN, Asia, maupun dunia). Tapi ya banyak kok orang Indonesia yang menyukainya. Saya pun suka film ini. Salah satu film yang membuat saya tertawa sampe sakit perut.

Yang membuat saya (dan orang Jawa lainnya) marah adalah Jawa itu juga Indonesia. Tapi caci maki datang justru dari sesama orang Indonesia itu sendiri. Yang katanya nggak Bhinneka Tunggal Ika. Ngomong opo? Nggak Bhinneka Tunggal Ika? Mungkin yang kamu maksud itu nggak SAMA. Nggak SAMA kayak yang lain yang film-nya menggunakan bahasa Indonesia.

Bhinneka itu artinya BERBEDA, bukan SAMA. Kalo film Yowis Ben ini diprotes karena nggak Bhinneka Tunggal Ika, itu salah. Justru film Yowis Ben ini mengangkat ke-Bhinneka-an. Bahwa di Indonesia ada Jawa juga. Bahkan sebentar lagi bakalan ada film Benyamin (yang diperankan Reza Rahardian), yang mengangkat budaya Betawi. Semakin menunjukkan ke-Bhinneka-an negara Indonesia. Kenapa nggak ada yang mempermasalahkan? Karena bahasa Betawi masih pakai bahasa Indonesia? Haha, lucu.

Mempermasalahkan sebuah film hanya karena berbeda bahasa, sama sekali tidak masuk akal. Karena sejak saya masih kecil, saya sering nonton film di tv dan itu ada subtitle-nya. Saya yang nggak bisa bahasa China, bisa tau apa yang dibicarakan Jackie Chan. Saya yang nggak bisa bahasa Jepang, juga bisa tau kata bijak yang disampaikan Naruto Uzumaki Golden Ways.


Saya bangga terlahir sebagai orang Jawa. Karena manusia tidak dapat memilih terlahir sebagai suku apa, warna kulit apa, kepercayaan apa atau kondisi hidupnya bagaimana. Tapi manusia dapat memilih untuk saling menghargai perbedaan dan bangga akan perbedaan yang dimiliki. Dan juga tidak merasa paling hebat. Karena hebat itu diakui, bukan mengakui.

Satu lagi yang membuat saya bangga menjadi orang Jawa. Dan mungkin orang-orang dari suku lain juga. Bahwa kami sejak kecil sudah bilingual, yaitu bisa menggunakan dua bahasa. Kalo bisa nambah 3 bahasa lagi, sudah bisa disebut polyglot tuh. Sekedar informasi lagi nih, bahwa Indonesia adalah salah satu negara dengan masyarakat yang bisa berbicara dalam 2 atau 3 bahasa terbanyak. Orang Inggris aja mayoritas cuma berbahasa Inggris.

Untuk kalian semua yang membaca ini, semoga tetap menghargai perbedaan, tidak merasa paling hebat dan juga tidak rasis. Sekian dari saya.
Si Yu Nex Taim..

8 komentar:

  1. Bahasa Jawa kok kampungan?
    Bahasa disetiap daerah itu kan salah satu bentuk budaya
    Kalo bahasa Jawa diklaim sama negara tetangga baru dah pada kebakaran jenggot

    BalasHapus
    Balasan
    1. Orang-orang seperti itu mana peduli? Yakin banget, dia bukan orang Jawa. Dia bangga menjadi orang kota. Dia pikir dia nggak kampungan.

      Hapus
  2. ojok lali ndelok film me mas (melok ngiklan hehe)
    aku bangga jadi orang jawa dialeknya banyak sekali
    terutama kawasan arek yang blak-blakan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pasti nonton. Kudu nonton ndek bioskop bro..

      Hapus
  3. Iya mas,lah wong bule juga banyak yang ingin bisa bahasa Jawa, kok di Indonesia malah nggak suka orang Jawa. Enyong wong Jawa, Jawa ngapak pula. Dan saya bangga dengan itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, betul tuh. Justru orang luar negeri yang excited mempelajari budaya Indonesia..

      Hapus
  4. Setujuuu, itu norak, dan kampungan banget yg komen begitu. Somnong luar biasa. Merasa diri lbh tinggi drpd TKI, jijik baca komen2nya .. Dan mereka itu kliatan bgt mas ga berpendidikan samasekali. Sedih ngeliat msh ada org yg begini pikirannya :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masih banyak orang primitif di dunia ini :(

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.