Kecelakaan Yang Tidak Keren


Ternyata mengingat kembali cerita memalukan yang pernah dialami itu asyik. Gue pun senyum-senyum sendiri kalau mengingatnya. Saking lucu dan anehnya, cerita ini sering menjadi bahan tertawaan di antara teman-teman SMA gue waktu itu. Karena kejadiannya sangat amatlah goblok.

Jadi, yang gue maksud adalah pengalaman gue naik sepeda motor. Syukurlah (harus disyukuri lho ini), dari 2013 sampe sekarang 2019, cuma 2 kali gue kecelakaan motor. Dan cerita ini tentang kecelakaan gue yang pertama. Ya, seperti cinta pertama, kecelakaan pertama pun tak akan pernah terlupakan. Ciyee... bucin.

Kecelakaan ini terjadi pas kelas 1 SMA. Motor Jupiter Z1 gue pun masih terbilang baru beli. Belum ada setahun kayaknya. Ceritanya, malam itu gue pergi ke rumah temen, sebut saja Topik (nama sebenarnya), mau main PS (PlayStation) dan berniat pulang tengah malam.

Baru jam 10-an, tiba-tiba ibu gue nelpon
"Lagi dimana kok rame?" tanyanya.
"Lagi main PS buk, sama Topik." gue jawab santai.
"Bohong, lagi nonton bokep kamu ya?" kata Ibu gue tiba-tiba tanpa filter.

Sebuah persekusi yang sangat menampar gue waktu itu. Gue jadi bingung bagaimana bisa suara obrolan dan teriakan orang-orang yang lagi main PS terdengarnya 'ah ah ah' di telinga ibu gue.

Jelas dong gue jawab
"Enggak buk, sumpah"
"Ya udah, pokoknya kamu pulang sekarang"
"Nanti, tengah malem"
"PULANG SEKARANG"

Akhirnya terpaksa gue ajak Topik pulang. Kami boncengan. Kalo dia nggak gue ajak, kasihan nanti pulangnya dia jalan sehat.

Pulangnya gue berkendara pelan-pelan. 40km/jam kira-kira. Terus selepas melewati perempatan, tiba-tiba ada motor Mio dari lawan arah jalan di sisi kanan jalan. Gue bingung dong, "jangan-jangan orang lagi mabok" pikir gue.

Lalu gue mikir lagi "apakah gue tersesat di Amerika?". Oke, kalo ini gue yang mabok. 

Dan kebingungan lain gue saat itu adalah
1. Kalo gue banting stir ke kiri, bakalan nabrak pagar bambu dan gue lecet-lecet tapi lawannya sehat sentosa. Gue rugi.
2. Kalo banting stir ke kanan, bisa aja gue oleng terus jatuh karena mendadak. Gue lagi yang rugi.
3. Lurus aja biar nabrak sekalian. Sama-sama rugi.

Ya tentu saja gue pilih nomer 3. Di samping sama-sama rugi, gue yang lagi emosi juga bisa meluapkannya ketika nabrak. Sayangnya, hasilnya kurang memuaskan. Cuma spion kiri lepas sama footstep kiri bengkok. Usaha gue belum maksimal. Tapi kalau gue berusaha maksimal, bisa-bisa pulangnya malah beneran jalan sehat.

Apa yang sebenarnya terjadi? Si pengendara mio ternyata mau berangkat kerja shift malam jaga sekolah.

Lalu kenapa jalannya di kanan? Trus dia jawab sambil takut-takut (untungnya nggak marah-marah terus unboxing motor), katanya udah kebiasaan kalo mau belok ke kanan, jalan di sebelah kanan dulu baru belok. 

Ini tuh sama ngeselinnya kayak orang yang mau belok gang, tapi males nyebrang (atau males putar balik), terus melipir di pinggir. 

Sampe sekarang kalau diingat-ingat lagi, gue masih heran sama kejadian itu. Pertama, gue baru tau kalo Ibu gue bisa berpikiran se-imajinatif itu. Out Of The Box. Outfit Of The Day.

Dan kedua, gue kan jalan pelan-pelan tuh, kalo dipikir-pikir lagi kayaknya masih bisa menghindar ke kanan.

Akhirnya, pesan gue buat orangtua maupun calon orangtua, jangan melarang anak laki-laki anda yang sudah SMA untuk pulang malam. Sekarang anda sudah tau kan apa efeknya terhadap spion motor?

1 komentar: