Rabu, 16 Mei 2018

#KAMITIDAKTAKUT

Melihat teror bom beruntun yang terjadi di 3 gereja di Surabaya hari Minggu kemarin (13/05/2018), membuat saya merenung. Membuat saya harus menulis ini.

Saya menulis ini sebagai reminder untuk kalian dan utamanya saya sendiri, bahwa peristiwa ini sudah banyak terjadi (semoga ini yang terakhir), dan harapannya sebagai bahan pembelajaran agar tidak terjadi lagi di kemudian hari.

Saat saya melihat-lihat di media sosial, saya terharu ternyata masih banyak yang peduli dan tidak terprovokasi atas terjadinya aksi terorisme ini. Bahkan, #KamiTidakTakut pun menjadi trending di Twitter. Semua menyatu berada di pihak yang sama. Kemanusiaan.

Di Instagram pun begitu. Banyak yang mengecam peristiwa ini. Sejenak kemudian, saya melihat postingan suatu akun yang berisi hasil screenshot. Screenshot yang menampilkan bahwa masih banyak juga yang tidak peduli, bahkan setuju atas terjadinya peristiwa ini.


Ada 2 kemungkinan dari screenshot tersebut, yaitu akun asli atau akun palsu untuk menebar kebencian. Tidak, saya tidak ada maksud menebar kebencian juga. Dengan saya tampilkannya contoh di atas, saya berharap kita tidak menjadi seperti mereka. Membenci manusia lain yang memiliki pandangan/kepercayaan berbeda.

By the way, saya dari kecil sering mendengar ceramah di masjid yang membahas bahwa agama Islam yang paling benar. Sebuah ceramah yang wajar. Sebagai umat beragama, harus yakin dan percaya bahwa agama yang dianutnya benar. Saya rasa semua agama juga begitu. Dan memang harusnya begitu.

Sayangnya untuk mereka yang bodoh, hal tersebut akan membuahkan persepsi yang salah, bahwa agamanya paling benar, lalu menghasilkan prinsip bahwa Beda = Musuh. Dari benih-benih inilah teroris ada.

"The highest result of education is tolerance."
-Helen Keller-

Lalu, yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana memeranginya?

Saya tidak tau pasti. Karena mereka ada di antara kita. Ikut bermasyarakat seperti sebagaimana mestinya. Memerangi mereka rasanya tidak ada bedanya dengan memerangi bangsa sendiri.

Mungkin satu-satunya cara yang sebaiknya dilakukan adalah mulai dari diri sendiri terlebih dahulu. Dengan memusnahkan kebencian yang ada dalam diri kita. Terdengar mudah, kenyataannya susah. Tapi susah bukan berarti tidak bisa.

Dan jangan lupa pererat silaturahmi. Tidak peduli mereka suku, ras atau agama apa, asal orang baik, mereka saudara. Karena ini sama saja seluruh agama, yaitu Hindu, Budha, Islam, Kristen,  Khatolik, Konghuchu, dan lainnya, melawan agama teroris.

Ya, akan semakin salah jika kita menganggap aksi terorisme ini adalah kesalahan salah satu agama. Hal tersebut tidak bisa dipukul sama rata. Karena pada faktanya, semua sama-sama rugi.

Umat Islam yang berusaha berpakaian mengikuti aturan agama, akan mudah dicurigai hanya karena para teroris memiliki penampilan yang sama. Padahal, sebuah kejahatan tidak bisa dilihat hanya dari penampilannya saja. Malah mayoritas penjahat memakai pakaian jas rapi berdasi. Ah, kalian tau lah maksud saya siapa.

Sedangkan kerugian yang dialami semuanya adalah rasa tidak aman dalam beraktifitas, terutama untuk menyembah Tuhannya masing-masing.

Harapan terakhirnya, jangan sampai kita teradu domba. Jangan sampai kita seperti mereka yang ada di screenshot tadi. Jangan sampai kita memusuhi mereka. Mereka hanya tidak tau apa yang mereka tulis. Jangan takut pada teroris, Tuhan melindungi kita semua.


"Peran agama sesungguhnya adalah membuat orang sadar akan fakta bahwa dirinya bagian dari umat manusia & alam semesta."
-Gus Dur-


NOTE:
Baru kali ini saya menulis postingan blog ditemani satu lagu yang saya mainkan berulang-ulang (biasanya saya menulis dalam keheningan). Lagu tersebut adalah Barasuara - Hagia. Lagu ini pernah saya bahas di postingan lain. Klik saja DISINI.
Lagu ini membuat saya merinding. Feel-nya terasa sekali. Bahkan belum lama ini Asteriska (salah satu vokalisnya), sampai menangis terharu karena banyaknya penonton yang ikut bernyanyi bersama. Sebuah bukti kecil bahwa sebenarnya kita bisa menang melawan mereka yang berusaha memecah-belah kita.

Senin, 19 Februari 2018

Aku Wong Jowo


Beberapa waktu lalu, saya seneng banget setelah Youtuber idola saya, Bayu Skak, akan merilis film pertama yang ditulis, diperankan, serta disutradarainya ini. Judulnya Yowis Ben yang tayang pada tanggal 22 Februari 2018.

Selain Bayu Skak, film Yowis Ben juga akan menampilkan para komedian dan aktor Indonesia seperti Joshua Suherman, Brandon Salim, Cut Meyriska, Arief Didu, Yudha Keling, Uus dan masih banyak lagi.

Jadi, film ini mengambil genre drama komedi romantis, dan full menggunakan bahasa Jawa. Lebih tepatnya bahasa Jawa Timuran. Sekedar Info nih guys, bahasa Jawa di Jawa Timur, dengan bahasa Jawa di Jawa Tengah itu beda lho. Seperti misalnya logat ngapak dan medok, logatnya berbeda padahal sama-sama bahasa Jawa. Oke, itu saja infonya.

Tapi tak berselang lama setelah trailernya meluncur, banyak komentar-komentar negatif dari netizen. Lalu, Bayu Skak pun merilis video YouTube terbarunya yang berjudul Aku Wong Jowo (Aku Orang Jawa). Hal tersebut dilakukan untuk menanggapi komentar-komentar negatif dari para netizen. Seperti ini komentarnya :



Maha Benar Netizen dengan Segala Komentarnya. Saya merasa heran, lucu, dan juga marah. Mereka mempermasalahkan bahasa yang akan digunakan dalam film tersebut. Bahkan tidak sedikit juga yang mengarah ke rasis. (Jancuk kon sing garapane rasis)

Yang membuat saya heran, kok ya masih ada orang rasis seperti ini. Sudah tahun 2018, tapi kok nggak ada kemajuan sama sekali. Di gambar tersebut, ada salah satu orang yang mengatakan bahwa bahasa Jawa adalah bahasa kampung. Oke, saya tidak akan memprotes hal itu, memang bahasa Jawa adalah bahasa kampung. Tapi, bahasa kampung bukan hanya bahasa Jawa saja kan?

Dan perlu dicamkan baik-baik, bahwa orang kampung tidak selalu kampungan. Tapi kalo orang rasis, itu sudah pasti kampungan.

Yang lucu adalah yang mempermasalahkan bahwa membuat film menggunakan bahasa Jawa itu tidak general. Alasan yang sangat tidak masuk akal. Film Korea, Jepang, China, dan Thailand nyatanya bisa dinikmati oleh masyarakat Indonesia. Padahal bahasa negara-negara tersebut adalah bahasa yang jarang dipakai orang Indonesia. Contohnya film Pee Mak Phrakanong. Mereka menggunakan bahasa Thailand (yang notabene bukan bahasa Universal di ASEAN, Asia, maupun dunia). Tapi ya banyak kok orang Indonesia yang menyukainya. Saya pun suka film ini. Salah satu film yang membuat saya tertawa sampe sakit perut.

Yang membuat saya (dan orang Jawa lainnya) marah adalah Jawa itu juga Indonesia. Tapi caci maki datang justru dari sesama orang Indonesia itu sendiri. Yang katanya nggak Bhinneka Tunggal Ika. Ngomong opo? Nggak Bhinneka Tunggal Ika? Mungkin yang kamu maksud itu nggak SAMA. Nggak SAMA kayak yang lain yang film-nya menggunakan bahasa Indonesia.

Bhinneka itu artinya BERBEDA, bukan SAMA. Kalo film Yowis Ben ini diprotes karena nggak Bhinneka Tunggal Ika, itu salah. Justru film Yowis Ben ini mengangkat ke-Bhinneka-an. Bahwa di Indonesia ada Jawa juga. Bahkan sebentar lagi bakalan ada film Benyamin (yang diperankan Reza Rahardian), yang mengangkat budaya Betawi. Semakin menunjukkan ke-Bhinneka-an negara Indonesia. Kenapa nggak ada yang mempermasalahkan? Karena bahasa Betawi masih pakai bahasa Indonesia? Haha, lucu.

Mempermasalahkan sebuah film hanya karena berbeda bahasa, sama sekali tidak masuk akal. Karena sejak saya masih kecil, saya sering nonton film di tv dan itu ada subtitle-nya. Saya yang nggak bisa bahasa China, bisa tau apa yang dibicarakan Jackie Chan. Saya yang nggak bisa bahasa Jepang, juga bisa tau kata bijak yang disampaikan Naruto Uzumaki Golden Ways.


Saya bangga terlahir sebagai orang Jawa. Karena manusia tidak dapat memilih terlahir sebagai suku apa, warna kulit apa, kepercayaan apa atau kondisi hidupnya bagaimana. Tapi manusia dapat memilih untuk saling menghargai perbedaan dan bangga akan perbedaan yang dimiliki. Dan juga tidak merasa paling hebat. Karena hebat itu diakui, bukan mengakui.

Satu lagi yang membuat saya bangga menjadi orang Jawa. Dan mungkin orang-orang dari suku lain juga. Bahwa kami sejak kecil sudah bilingual, yaitu bisa menggunakan dua bahasa. Kalo bisa nambah 3 bahasa lagi, sudah bisa disebut polyglot tuh. Sekedar informasi lagi nih, bahwa Indonesia adalah salah satu negara dengan masyarakat yang bisa berbicara dalam 2 atau 3 bahasa terbanyak. Orang Inggris aja mayoritas cuma berbahasa Inggris.

Untuk kalian semua yang membaca ini, semoga tetap menghargai perbedaan, tidak merasa paling hebat dan juga tidak rasis. Sekian dari saya.
Si Yu Nex Taim..

Sabtu, 27 Januari 2018

Multitasking Menjadi Lebih Mudah Dengan ASUS X555QG - Laptop For Everyone


Sekitar 8 tahun yang lalu, saat saya masih SD kelas 6, adalah saat pertama kalinya saya mengenal komputer. Waktu itu saya tahu komputer di warnet dekat rumah. Saya masih inget, warnet waktu itu belum dibuat bilik-bilik, dan monitornya masih tabung. Browser internetnya pun masih menggunakan Internet Explorer yang terkenal kelemotannya. Saat itu saya penasaran banget gimana cara menggunakan komputer, dan seperti apa wujud internet jika dibuka melalui komputer. Tangan saya masih kaku banget pas pertama kalinya megang mouse.

2 tahun kemudian, saya dan kakak perempuan saya dibelikan komputer oleh orangtua. Sejak dibelikan, akhirnya saya bisa menggunakan komputer tanpa harus mbayar. Saya seneng banget waktu itu. Sehabis beli sampe gak bisa tidur nunggu hari esok pas komputer dirakit. Setelah hari itu, justru saya yang sering menggunakan komputer. Entah itu nonton film, main game, atau dengerin musik. Hanya sesekali kakak saya menggunakannya untuk ngerjain tugas. Tapi pas saya sudah SMA, komputernya sering rusak. Dan saya sudah males bawa ke tempat servisan. Saya capek, baru bener sebentar udah rusak lagi CPU-nya.


saat komputer saya masih sehat

Setelah saya masuk SMA, dan kakak saya mendapat pekerjaan, kakak saya beli laptop sendiri. Ditambah, dapet laptop pinjaman dari kantor. Jadi saya sesekali bisa pinjem laptopnya. Buat main PES (Pro Evolution Soccer) 2013. Sampe akhirnya lama-lama bablas, laptopnya saya pake sampe kuliah.

Laptop ini saya pakai untuk banyak hal. Buat ngerjain tugas, nyetel lagu (sekaligus ngoleksi), main game, nonton film (sekaligus ngoleksi juga), ngedit gambar, dijadiin ampli gitar (karena saya nggak punya ampli gitar), buat nge-blog dan kegiatan lainnya. Banyak banget.

Sayangnya, laptop tersebut nggak mampu melakukan semua keinginan saya. Pas saya pake buat internetan dan main lagu sering banget nge-lag. Atau pas saya jadiin efek gitar, gak sampai 15 menit udah mati sendiri karena baterainya nggak kuat. Pas nonton film juga ngadat kalo dipake buat nonton yang kualitas bluray 1080p.




Setelah saya melihat-lihat di internet, laptop yang cocok untuk saya adalah ASUS X555QG. Karena target pasarnya yang tidak hanya untuk profesional, tapi untuk mahasiswa juga.


Dengan harga Rp. 7.649.000 saja, kita sudah bisa mendapatkan ASUS X555QG. Selain itu, mampu melakukan kegiatan sesuai yang saya inginkan seperti:

NONTON FILM

Saya hobi banget nonton dan ngoleksi film superhero Marvel dengan kualitas tinggi. Saya akan sangat terpuaskan oleh ASUS X555QG karena telah dilengkapi dengan prosessor AMD APU 7th Gen yang mampu menyuguhkan kualitas gambar jernih hingga resolusi 4K. Untuk menonton film Marvel favorit saya pun tidak akan nge-lag.

Selain itu, saya tidak perlu nonton film terlalu dekat dengan layar laptop karena ASUS X555QG dilengkapi layar yang lebarnya 15.6 inch dan resolusi 1366 x 768p HD.



ASUS X555QG juga sudah dilengkapi dengan teknologi IceCool. Jadi kalo saya menonton film berjam-jam pun laptopnya tidak akan panas. Tetep cool bro.

DENGERIN MUSIK


Dalam hal audio, ASUS X555QG telah dilengkapi dengan perangkat SonicMaster. Perangkat ini dilengkapi software khusus yang mengizinkan penggunanya mengatur kualitas audio sesuai keinginan,

Selain suka mengkoleksi film, saya juga suka mengkoleksi lagu hasil rip CD saya (satu lagunya kurang lebih 30-50MB tergantung durasi). kapasitas media penyimpanan ASUS X555QG sebesar 1TB (TeraByte) HDD, memungkinkan saya untuk menyimpan ribuan lagu dan film. Mantap jiwa.

DIJADIKAN AMPLI GITAR LISTRIK

Saya belum punya ampli gitar sendiri. Sebagai gantinya, laptoplah yang saya jadikan ampli gitar. Aplikasi ampli gitar yang lumayan besar bukanlah masalah bagi ASUS X555QG. Selain prosessornya yang mumpuni, sangat terbantu dengan RAM bawaan 4GB Dual Channel. Mampu membuat kinerja laptop menjadi lebih cepat. Apalagi jika RAM pertama sudah di-upgrade menjadi 8GB, lalu ditambah RAM kedua sebesar 8GB juga. Bye-bye lemot.

NGERJAIN TUGAS

Dalam mengerjakan tugas, entah itu tugas nge-blog atau tugas kuliah, saya suka sekali membuat laptop saya menjadi dual monitor. Dengan tambahan monitor komputer saya (yang CPU-nya rusak tadi), dan saya sambung ke VGA Port yang sudah tersedia di laptop ASUS X555QG, Saya bisa membuka banyak aplikasi dengan dua monitor tersebut. Tapi tenang, RAM dan Prosessor ASUS X555QG sangat mendukung untuk membuka banyak aplikasi tanpa perlu takut lemot.

MAIN GAME

Saya masih suka sekali main PES. Tapi, hanya untuk PES 2013 saja laptop saya kadang-kadang nge-lag. Lagi enak-enak nyerang tiba-tiba nge-lag, pas udah nggak nge-lag bola direbut lawan. Penyebab nge-lag selain prosessor dan RAM-nya yang kurang, ada juga yang namanya VRAM.


Nah, selain RAM dan Prosessor-nya yang mantap banget, ASUS X555QG juga dilengkapi dengan VRAM sebesar 2GB, pada kartu grafis menggunakan Radeon R7 R5 M430 DX. Mampu untuk memainkan game-game kasual masa kini seperti PES tadi. Dengan spesifikasi tersebut, saya bisa main PES 2017 dengan lancar, saya bosen kalo main PES 2013 terus.





Dan masih ada spesifikasi lainnya yang membuat saya menyukai ASUS X555QG yaitu
- TouchPad luas dan memungkinkan multi-touch.
- Keyboard terdapat NumLock. Tidak seperti laptop lain yang pencetan angka hanya diatas, di laptop ASUS X555QG terdapat pencetan angka disamping Enter. Mirip seperti keyboard komputer. ASUS X Series 400-an aja masih pake keyboard laptop biasa lho.
- Instan On 2 detik. Menyalakan lagi laptop dari mode sleep tidak perlu menunggu lama.
- Ada USB Port 3.0. Memungkinkan kecepatan transfer data hingga 10x lipat dibanding USB Port 2.0.
- Beratnya hanya 2,2 kg. Ringan untuk dibawa kemana-mana. Beda sama laptop saya yang beratnya minta ampun. Bikin males bawa ke kampus.



Jadi, itu tadi sebab-sebab mengapa laptop ASUS X555QG cocok untuk saya. Apakah kalian tertarik juga dengan laptop ASUS X555QG? Atau mungkin sudah punya target laptop ASUS X Series yang lain? Share di kolom komentar ya.
Terimakasih. Si Yu Nex Taim.


Artikel ini diikutsertakan pada Blog Competition ASUS AMD – Laptop For Everyone yang diselenggarakan oleh bocahrenyah.com

Jumat, 12 Januari 2018

Habiskan Makananmu!


Tiba-tiba saja saya ingin membahas hal ini. Uneg-uneg yang harus disampaikan. Penting nggak penting sih, tapi setelah saya melihat banyaknya makanan sisa yang entah disengaja atau tidak, saya rasa hal ini sangat penting.

Saya sering sekali melihat, entah itu waktu di kantin sekolah, atau di warung makan favorit saya, masih banyak orang yang menyisakan makanannya.

Seperti misalnya menyisakan kuah soto atau mie ayam, sawi di mie ayam, timun di nasi goreng, nasi goreng nggak habis, ayam goreng masih sisa banyak daging, minuman nggak habis, dan masih banyak lagi.

Dengan kesadaran penuh, tanpa pengaruh alkohol, dengan sengaja menyisakan makanan, padahal tidak ada tanda-tanda kekenyangan. Why??

Alergi? Tidak mungkin orang tersebut sengaja memesan makanan yang membuatnya alergi. Ketololan yang hakiki kalo seperti itu.

Nggak doyan? Ya ngapain dipesen? Kalo ada beberapa bahan makan yang nggak suka atau alergi, kasih ke temennya kan bisa. Atau kalo udah tau bahannya apa, bilang ke penjualnya nggak usah pake itu. Gampang, ya kan?

Sengaja disisakan biar keren? Hadeh. Saya yakin, jika suatu hari dia mengalami kelaparan dan kehausan yang ekstrim, orang itu pasti melibas habis makanan sampai piring bersih seperti habis dicuci dan menenggak habis minuman sampai tetes terakhir.

Jujur, saya lebih memaklumi mereka yang mengurangi nasi untuk menghindari naiknya gula darah. Tapi ya setidaknya tau porsilah kalo memang seperti itu. Tau pernah diabetes, terus pesen nasinya 2 piring, parah banget ini. Semoga hanya di imajinasi saya saja.

Saya sengaja membahas ini karena saya membayangkan seandainya semua orang, terutama di Indonesia menghabiskan makanannya, Indonesia tidak perlu lagi impor beras, atau bahan makanan lainnya.

Bayangkan saja, satu warung makan bisa menyisakan berkilo-kilogram makanan sisa dalam sehari. Kita ambil angka kecilnya saja, 1 kilogram. Kalikan saja dengan jumlah warung di Indonesia. Gila! banyak banget itu. Bahkan walaupun warung kecil diabaikan, itu masih terbilang banyak. Wow.

See? Kita menyisakan berkilo-kilogram makanan dalam sehari. Seandainya itu makanan utuh, bisa untuk memberi makan seluruh rakyat Timor Leste (Kayaknya sih, kan negara kecil). Lagi-lagi wow.

Berbicara kebiasaan menghabiskan makanan, saya mulai membiasakan hal ini sejak SMP. Dan saya merasa kesal jika ada yang menyisakan makanannya.

Saya berpikir, usaha saya ini akan sia-sia jika masih banyak orang yang menyisakan makanannya. Saya takut, seandainya bahan makanan di bumi ini tidak mampu mencukupi kebutuhan semua manusia. Banyak kelaparan melanda negara-negara dunia. Bahkan negara sekelas Amerika Serikat.

Mungkin saya kebanyakan nonton film. Tapi bagaimana jika hal itu benar terjadi? Akan ada banyak penyesalan mengapa dia dulu tidak menghabiskan makanannya. Akan merindukan masa-masa indah dimana masih ada banyak makanan, masih bisa pilih menu, masih bisa mencium aromanya, bentuknya, dan memegang lembut teksturnya. Halah, malah ngelantur.

Oke, jadi ayo habiskan makananmu. Kalo tidak ada pilihan lain ya berikan ke temen. Tahu porsi sendiri, tahu alerginya apa, dan tahu diri...

Dimohon Tahu Diri, jangan Tahu Nyender

Hehe, sekian dari saya. Hidup Ngunyah!!


Sumber Gambar:
https://esmemes.com/i/lahu-tidur-tahu-diri-macam-macam-tahu-kiriman-dedi-pranata-3284947

Minggu, 12 November 2017

Lamunan Masa Lalu

Blog

Saat saya sedang melamun sendirian di dalam kamar, tiba-tiba saya terpikirkan suatu hal. Jika saya sudah tidak bersekolah, apakah akan semenyenangkan ini? Saat ini saya kuliah semester 3. Masih ada 3 semester lagi (karena D3). Lalu tiba-tiba teringat saat saya di SMA, saat bosan di kelas, mencorat-coret tidak jelas di lembaran belakang buku. Selesai olahraga, dengan penuh kesadaran masih menikmati soto dan sate usus di kantin karena berusaha menghindari hal mengerikan yang bernama matematika. Atau saat malam minggu, malam dimana siswa memiliki kesempatan untuk kumpul-kumpul ngopi bareng teman, walaupun lebih banyak saya nikmati dengan tidur (yang pada akhirnya saya sesali hal itu).

Terkadang kami rencanakan liburan ke suatu tempat yang pas untuk menikmati hari libur, sebuah hari senggang di antara kesibukan tumpukan tugas sekolah. Sejenak melupakan penat dengan menikmati segelas kopi, beberapa snack, dan mie goreng instan, yang terkadang kami nikmati di atas tebing, di pinggir pantai, di sebuah gubuk dengan pemandangan eksotis, atau di atas gunung yang tidak terlalu tinggi (karena motor bisa sampai disana).

Saya mulai menyadari, bahwa menikmati hal biasa bersama sahabat ternyata sangat menyenangkan. Ya sahabat, karena tidak ada kecanggungan disana, saling melempar hinaan untuk maksud candaan, bahkan membuka aib teman sendiri untuk bahan tertawaan. Iya, teman emang gitu. Ah, saya mulai rancu dengan istilah sahabat dan teman. Nggak masalah ya, karena sahabat adalah teman, tapi teman belum tentu sahabat.

Semua hal ini terjadi karena tugas. Pernah kami berharap seandainya sekolah tidak ada tugas. Hanya pelajaran biasa, istirahat di kantin, kegiatan-kegiatan lain, kemudian pulang ke rumah untuk malamnya ngumpul bersama teman tanpa ada beban tugas yang mengganjal pikiran.

Tapi di sudut pikiran yang lain berkata, seandainya tugas memang benar-benar tidak ada, akankah yang terjadi di SMA akan se-memorable itu? Sepertinya tidak. Karena liburan sederhana yang telah dilakukan akan terkesan benar-benar biasa. Tidak ada emosi pembalasan dendam setelah sekian banyak tugas. Karena tugaslah, setiap liburan bareng menjadi terasa limited edition.

Mari kembali ke masa sekarang, mengingat hal ini rasanya kegiatan menjenguk teman kuliah pun menjadi terasa spesial, karena disempat-sempatkan di dalam padatnya perkuliahan. Walaupun ada beberapa hal yang menjadi membosankan karena distraksi kenangan masa SMA. Ya begitulah hidup, suatu hal akan menjadi begitu dicintai setelah hal itu hilang.

Seandainya kegiatan nge-band nggak jelas bareng temen -yang penting bunyi- bisa dan sering terlaksana, nantinya pasti akan terasa spesial saat semua berkumpul kembali lalu melakukannya lagi. Semoga saja.

Dan setelah wisuda nanti, saya pasti akan merindukan semua hal yang ada di kehidupan masa sekolah saya. Hal ini membuat saya berpikir, saya harus menikmati momen-momen ini sebelum saya menyesalinya. Tersisa 3 semester, waktu yang tidak banyak.

Kamis, 19 Oktober 2017

Jam Tangan Idaman

Blog

Setiap orang pasti memiliki kriteria pada sesuatu hal yang ingin dimilikinya. Entah itu pasangan hidup, ataupun hanya sebuah benda. Begitu juga gue, yang memiliki kriteria jam tangan idaman.

Sudah 3 bulan ini (mungkin lebih) jam tangan gue hilang. Ini berarti gue harus beli baru lagi (kecuali ada yang mengikhlaskan jam tangan kerennya buat gue). Untuk pembelian ketiga kalinya ini, gue harus memilih dengan baik jam tangan mana yang sesuai kriteria gue.

Ya sebenarnya jam tangan yang hilang ini sudah hampir memenuhi kriteria jam tangan idaman. Hampir lho ya, jadi ya lumayan seneng juga sih jam tangannya ilang. Hehehe..

Memangnya apa aja sih kriteria jam tangan idaman gue ini?

Belum paten kok. Cuma kriteria sementara untuk sekarang ini. Siapa tau nanti gue mau kriteria yang lebih uye lagi. Ini kriteria jam tangan idaman gue :

1. Jam Digital-Analog atau Digital
Yang gue inget, jam yang pertama kali gue miliki itu Analog. Gue anggap kalian sudah tau arti analog. Gue nggak terlalu seneng jam seperti ini. Karena tidak menunjukkan waktu secara tepat dan detil beserta satuan detiknya.

Cuman ya kelebihannya jam analog itu cukup lihat sekilas saja sudah tau jam berapa. Beda dengan digital yang perlu waktu sedikit lebih lama untuk melihatnya. Karena terkadang rancu antara angka 0 dan 8. Belum lagi otaknya loading dulu mikir 18.30 itu setengah 7 atau setengah 9. Gue sering begini.

Kalau gue pake jam analog, nanti gue nggak bisa hitung mundur bel pulang sekolah dengan tepat (ini hobi gue pas SMA). Makanya gue milih digital.

2. Tahan Air
Tahan air yang gue maksud adalah bisa dipake mandi tanpa menyebabkan efek samping bagian dalamnya ngembun. Banyak temen-temen gue yang jam tangannya seperti itu. Tulisannya water resist berapa m gitu, tapi kehujanan ngembun. Mungkin karena udah pernah dibuka buat ganti baterai.

Gue nggak mau ribet lepas jam tangan kalo misalnya tiba-tiba kehujanan ataupun mau cuci tangan. Ribet. Takutnya abis dilepas lupa dipakai lagi. Kalo ada jam tangan yang tahan air, kenapa nggak dipilih? Ya kan?

3. Strap Yang Tidak Mudah Rusak
Ada banyak macam jenis strap di dunia per-jam tangan-an. Yaitu karet, jahitan, kulit, besi, dan jenis strap lain yang nggak gue ketahui. Kebanyakan strap yang dipakai untuk jam sport adalah karet.

Jam gue yang hilang ini strap-nya termasuk jenis karet. Dan hanya dalam durasi 3 tahun sudah rusak beserta strap cadangannya juga. Untuk target jam tangan baru ini, gue mau mencoba yang dari jahitan. Kalaupun rusak bisa diganti tali paracord.

4. Ukuran Pas
Sebenarnya kalo gue memakai jam ukuran kecil ya tangan gue merasa nyaman-nyaman saja. Yang nggak nyaman itu mata saya. Nanti malah gue kira gelang. Mata minus 3 ya begini nih.

Gue juga nggak suka jam yang kegedean ukurannya. Itulah sebabnya gue nggak pake jam Big Ben di tangan. Bagaimana dengan Anda?

5. Hari dan Tanggal Otomatis
Jam tangan gue yang hilang kemarin sudah ada fasilitas ini. Hari dan tanggal otomatis tanpa harus mengatur ulang setiap bulannya.

Hari, tanggal, bulan dan tahun yang cocok tanpa harus diatur lagi. Seperti sudah tau kalo Januari itu 31 hari, Februari itu 28/29 hari. Malah gue yang sering lupa sebulan itu berapa hari, harus hitung pake tangan dulu. Gue merasa primitif.

Kriteria ini gue masukkan karena gue juga sering lupa hari ini tanggal berapa. Tidak efisien kalau harus ngeluarin HP dulu dari kantong celana. Kalo sudah ada di jam tangan, kita bisa menghemat sekitar 3 detik.

-----------

Ya, itu aja sih kriterianya. Untuk kriteria yang terakhir tidak terpenuhi bukan masalah. Yang penting 4 kriteria sebelumnya terpenuhi.

Hanya saja, sampai sekarang gue belum menemukan jam tangan idaman saya itu. Budget-nya nggak kuat. Minimal 250ribu biar dapet sesuai kriteria.

Ada yang tau tipe dan merk apa jam tangan yang sesuai sama kriteria gue? Atau kalian punya kriteria jam tangan sendiri? Share aja di komentar.

Jumat, 13 Oktober 2017

#BahasLagu Barasuara - Hagia

Setelah postingan pertama saya dalam segmen #BahasLagu kemarin, saya pun nggak sabar ingin membahas lagu favorit saya selanjutnya. Bolak-balik scroll lagu-lagu yang berderet rapi di playlist, dari band yang berawalan huruf A sampai Z. Memilih lagu apa yang cocok.

And finally, saya pun memilih salah satu lagu dari band favorit saya, yaitu Barasuara yang berjudul Hagia. Ini adalah lagu dengan durasi dan lirik terpendeknya Barasuara. Nggak tau kenapa, lagu bagus menurut saya kok durasinya pendek. Sebagai contoh ya Cancer-nya My Chemical Romance.

Hagia. "Kok judulnya agak aneh ya?", komentar saya waktu itu.
"Kok bukan Bahagia ya?"
"Apa ini salah ketik?"
Tapi, bukan Iga Massardi namanya kalo tidak memberi judul lagu yang unik seperti ini. Langsung aja dibahas, ini lirik lagu dan videonya:


BARASUARA - HAGIA

Sempurna yang kau puja, dan ayat-ayat yang kau baca
Tak kurasa berbeda
Kita bebas untuk percaya
"Seperti kami pun mengampuni, yang bersalah kepada kami"
---------------------

Waktu itu saya penasaran banget dengan maksud judul lagu ini apa. Dan google pun menjadi pilihan. Hagia. Yang dimaksudkan pada sebuah tempat bernama Hagia Sophia yang terletak di Istanbul, Turki. Sebuah gereja, yang kemudian beralih fungsi menjadi masjid, dan sekarang menjadi museum wisata religi.

Bisa dibilang Hagia Sophia adalah simbol pertemuan Kristen dan Islam. Pas banget dengan isi lagunya yang bercerita tentang toleransi beragama. Bisa dilihat dari penggalan liriknya.

Dan Barasuara telah membuktikan indahnya toleransi beragama itu sendiri. Mereka berbeda kepercayaan, tapi ketika menyatu dapat menghasilkan karya yang keren banget. Seakan-akan mereka berkata "nih lihat, toleransi itu indah bro".

Jangan seperti Isis, mengatasnamakan agama Islam, meneror orang-orang yang nggak punya salah ke mereka. Padahal nggak kenal. Nggak tau deh karena mereka tolol apa gimana. Jangan pula seperti biksu-biksu brengsek di Myanmar sana, orang beragama tapi perilakunya kayak ***** (kena sensor).

Ya mau gimana lagi, pada dasarnya ada putih pasti ada hitam. Ada baik, ada buruk. Sama seperti warna, untuk membentuk putih pun harus menyatukan warna-warna lain. Untuk menyatukan warna-warna lain itulah dibutuhkan toleransi.

Oke, balik ke lagu. Masuk ke baris terakhir lagu ini. Keren banget. Iga Massardi disini dengan berani memasukkan penggalan ayat Doa Bapa Kami. Yang dia bilang bahwa itu ayat favoritnya. Maknanya dalam banget.

Bicara soal musik, pertama kali saya denger lagu ini, komentar saya lagi-lagi "kok aneh banget lagu ini". Diawali dengan gebukan drum yang unik dari Marco. Tidak memberikan tempo yang konstan seperti nggebuk drum pada umumnya. Saya sebut variasi aja lah ya. Saya nggak ngerti namanya apa.

Dan juga nggak full seperti biasanya, tapi gebukannya sedikit-sedikit berhenti. Dengerin sendiri aja deh pokoknya. Tapi, entah mengapa justru akhirnya menjadi part favorit saya di lagu ini.

Kemudian lirik awal masuk (sebelum penggalan ayat Doa Bapa Kami), lalu gitar mulai mengisi. Makin lama tensinya makin naik. Dan bum, puncaknya di penggalan ayat Doa Bapa Kami tadi.

Hagia ini adalah salah satu lagu favorit saya, karena maknanya dalem banget. Harapan agar setiap manusia saling toleransi, menghargai perbedaan apapun itu. Toleransi, bukan telorasin. Sampai jumpa di #BahasLagu berikutnya.