Sabtu, 27 Januari 2018

Multitasking Menjadi Lebih Mudah Dengan ASUS X555QG - Laptop For Everyone


Sekitar 8 tahun yang lalu, pas gue masih SD kelas 6 SD, adalah saat pertama kalinya gue mengenal komputer. Waktu itu gue tahu komputer di warnet dekat rumah. Gue masih inget, warnet waktu itu belum dibuat bilik-bilik, dan monitornya masih tabung. Browser internetnya pun masih menggunakan Internet Explorer yang terkenal kelemotannya. Waktu itu gue penasaran banget gimana cara menggunakan komputer, dan seperti apa wujud internet jika dibuka melalui komputer. Tangan gue masih kaku banget pas pertama kalinya megang mouse. Takut kegigit, wkwk.

2 tahun kemudian, kakak gue dibeliin komputer sama orangtua. Sejak dibelikan, akhirnya gue bisa menggunakan komputer tanpa harus mbayar. Gue seneng banget waktu itu. Sehabis beli sampe gak bisa tidur nungguin besok pas komputer dirakit. Setelah hari itu, justru gue yang sering pake komputer. Entah itu nonton film, main game, atau dengerin musik. Karena milik kakak, milik gue juga. Tapi pas SMA, komputernya sering rusak. Gue dah males bawa ke tempat servisan. Capek, baru bener sebentar udah rusak lagi CPU-nya.


saat komputer gue masih sehat

Setelah gue masuk SMA, dan kakak gue dapet kerjaan, kakak gue beli laptop sendiri. Ditambah, dapet laptop pinjaman dari kantor. Jadi gue sesekali bisa pinjem laptopnya. Buat main PES (Pro Evolution Soccer) 2013. Sampe akhirnya lama-lama bablas, laptopnya gue pake sampe kuliah. Gue kudeta.

Laptop ini gue pakai untuk banyak hal. Buat ngerjain tugas, nyetel lagu (sekaligus ngoleksi), main game, nonton film (sekaligus ngoleksi juga), ngedit gambar, dijadiin ampli gitar (karena saya nggak punya ampli gitar), buat nge-blog dan kegiatan lainnya. Banyak banget.

Sayangnya, laptop tersebut nggak mampu melakukan semua keinginan gue. Pas diake buat internetan dan main lagu sering banget nge-lag. Atau pas gue jadiin efek gitar, gak sampai 15 menit udah mati sendiri karena baterainya nggak kuat. Pas nonton film juga ngadat kalo dipake buat nonton yang kualitas bluray 1080p.




Setelah gue lihat-lihat di internet, laptop yang cocok buat gue adalah ASUS X555QG. Karena target pasarnya yang tidak hanya untuk profesional, tapi untuk mahasiswa juga.


Dengan harga Rp. 7.649.000 saja, kita sudah bisa mendapatkan ASUS X555QG. Selain itu, mampu melakukan kegiatan sesuai yang gue pengen seperti:

NONTON FILM

Gue hobi banget nonton dan ngoleksi film superhero Marvel dengan kualitas tinggi. Gue bakalan sangat terpuaskan oleh ASUS X555QG karena telah dilengkapi dengan prosessor AMD APU 7th Gen yang mampu menyuguhkan kualitas gambar jernih hingga resolusi 4K. Untuk menonton film Marvel favorit pun nggak bakalan nge-lag.

Selain itu, gue nggak perlu nonton film terlalu dekat dengan layar laptop karena ASUS X555QG dilengkapi layar yang lebarnya 15.6 inch dan resolusi 1366 x 768p HD.



ASUS X555QG juga sudah dilengkapi dengan teknologi IceCool. Jadi kalo gue nonton film berjam-jam pun laptopnya nggak bakalan panas. Tetep cool bro.

DENGERIN MUSIK


Dalam hal audio, ASUS X555QG telah dilengkapi dengan perangkat SonicMaster. Perangkat ini dilengkapi software khusus yang mengizinkan penggunanya mengatur kualitas audio sesuai keinginan,

Selain suka mengkoleksi film, gue suka banget mengkoleksi lagu hasil rip CD (satu lagunya kurang lebih 30-50MB tergantung durasi). kapasitas media penyimpanan ASUS X555QG sebesar 1TB (TeraByte) HDD, memungkinkan untuk menyimpan ribuan lagu dan film. Mantap jiwa.

DIJADIKAN AMPLI GITAR LISTRIK

Gue belum punya ampli gitar sendiri. Sebagai gantinya, laptoplah yang gue jadiin ampli gitar. Aplikasi ampli gitar yang lumayan besar bukanlah masalah bagi ASUS X555QG. Selain prosessornya yang mumpuni, sangat terbantu dengan RAM bawaan 4GB Dual Channel. Mampu membuat kinerja laptop menjadi lebih cepat. Apalagi jika RAM pertama sudah di-upgrade menjadi 8GB, lalu ditambah RAM kedua sebesar 8GB juga. Bye-bye lemot.

NGERJAIN TUGAS

Dalam mengerjakan tugas, entah itu tugas nge-blog atau tugas kuliah, gue suka banget bikin laptop gue jadi dual monitor. Dengan tambahan monitor komputer (yang CPU-nya rusak tadi), dan gue sambung ke VGA Port yang sudah tersedia di laptop ASUS X555QG, gue bisa membuka banyak aplikasi dengan dua monitor tersebut. Tapi tenang, RAM dan Prosessor ASUS X555QG sangat mendukung untuk membuka banyak aplikasi tanpa perlu takut lemot.

MAIN GAME

Gue masih suka banget main PES. Tapi, cuma buat PES 2013 aja laptop gue kadang-kadang nge-lag. Lagi enak-enak nyerang pake Ronaldo tiba-tiba nge-lag, pas udah nggak nge-lag bola direbut lawan. Penyebab nge-lag selain prosessor dan RAM-nya yang kurang, ada juga yang namanya VRAM.


Nah, selain RAM dan Prosessor-nya yang mantap banget, ASUS X555QG juga dilengkapi dengan VRAM sebesar 2GB, pada kartu grafis menggunakan Radeon R7 R5 M430 DX. Mampu untuk memainkan game-game kasual masa kini seperti PES tadi. Dengan spesifikasi tersebut, gue bisa main PES 2017 dengan lancar, bosen lah kalo main PES 2013 terus.





Dan masih ada spesifikasi lainnya yang buat gue menyukai ASUS X555QG yaitu
- TouchPad luas dan memungkinkan multi-touch.
- Keyboard terdapat NumLock. Tidak seperti laptop lain yang pencetan angka hanya diatas, di laptop ASUS X555QG terdapat pencetan angka disamping Enter. Mirip seperti keyboard komputer. ASUS X Series 400-an aja masih pake keyboard laptop biasa lho.
- Instan On 2 detik. Menyalakan lagi laptop dari mode sleep tidak perlu menunggu lama.
- Ada USB Port 3.0. Memungkinkan kecepatan transfer data hingga 10x lipat dibanding USB Port 2.0.
- Beratnya hanya 2,2 kg. Ringan untuk dibawa kemana-mana. Nggak kayak laptop gue yang beratnya minta ampun. Bikin males bawa ke kampus.



Jadi, itu tadi sebab-sebab mengapa laptop ASUS X555QG cocok buat gue. Apakah kalian tertarik juga dengan laptop ASUS X555QG? Atau mungkin sudah punya target laptop ASUS X Series yang lain? Share di kolom komentar ya.
Terimakasih. Si Yu Nex Taim.


Artikel ini diikutsertakan pada Blog Competition ASUS AMD – Laptop For Everyone yang diselenggarakan oleh bocahrenyah.com

Jumat, 13 Oktober 2017

#BahasLagu Barasuara - Hagia

Setelah postingan pertama gue dalam segmen #BahasLagu kemarin, gue pun nggak sabar ingin membahas lagu favorit gue selanjutnya. Bolak-balik scroll lagu-lagu yang berderet rapi di playlist, dari band yang berawalan huruf A sampai Z. Memilih lagu apa yang cocok.

And finally, gue pun memilih lagunya band favorit gue, Barasuara yang berjudul Hagia. Ini adalah lagu dengan durasi dan lirik terpendeknya Barasuara. Yang bikin gue heran, lagu yang menurut gue bagus kok kebanyakan durasinya pendek. Sebagai contoh ya Cancer-nya My Chemical Romance.

Hagia. "Kok judulnya agak aneh ya?", komentar gue waktu itu.
"Kok bukan Bahagia ya?"
"Apa ini salah ketik?"
Tapi, bukan Iga Massardi namanya kalo tidak memberi judul lagu yang unik seperti ini. Langsung aja dibahas, ini lirik lagu dan videonya:


BARASUARA - HAGIA

Sempurna yang kau puja, dan ayat-ayat yang kau baca
Tak kurasa berbeda
Kita bebas untuk percaya
"Seperti kami pun mengampuni, yang bersalah kepada kami"
---------------------

Waktu itu gue penasaran banget dengan maksud judul lagu ini apa. Dan google pun menjadi pilihan. Hagia. Yang dimaksudkan pada sebuah tempat bernama Hagia Sophia yang terletak di Istanbul, Turki. Sebuah gereja, yang kemudian beralih fungsi menjadi masjid, dan sekarang menjadi museum wisata religi.

Bisa dibilang Hagia Sophia adalah simbol pertemuan Kristen dan Islam. Pas banget dengan isi lagunya yang bercerita tentang toleransi beragama. Bisa dilihat dari penggalan liriknya.

Dan Barasuara telah membuktikan indahnya toleransi beragama itu sendiri. Mereka berbeda kepercayaan, tapi ketika menyatu dapat menghasilkan karya yang keren banget. Seakan-akan mereka berkata "nih lihat, toleransi itu indah bro".

Jangan seperti Isis, mengatasnamakan agama, meneror orang-orang yang tidak punya salah ke mereka. Padahal nggak kenal. Nggak tau deh karena mereka tolol apa gimana. Jangan pula seperti biksu-biksu brengsek di Myanmar sana, orang beragama tapi perilakunya kayak ***** (sori kena sensor).

Ya mau gimana lagi, pada dasarnya ada putih pasti ada hitam. Ada baik, ada buruk. Sama seperti warna, untuk membentuk putih pun harus menyatukan warna-warna lain. Untuk menyatukan warna-warna lain itulah dibutuhkan toleransi.

Oke, balik ke lagu. Masuk ke baris terakhir lagu ini. Keren banget. Iga Massardi disini dengan berani memasukkan penggalan ayat Doa Bapa Kami. Yang dia bilang bahwa itu ayat favoritnya. Maknanya dalam banget.

Tentang pengampunan. Bahwa memang benar, hal terbesar yang paling sulit dilakukan manusia adalah mengampuni. Ya kan? Yang dulunya deket banget aja selang 2 bulan langsung dibilang brengsek. Namanya mantan. 

Oke, bicara soal musik, pertama kali gue denger lagu ini, komentar gue lagi-lagi "kok aneh banget lagu ini". Diawali dengan gebukan drum yang unik dari Marco. Tidak memberikan tempo yang konstan seperti nggebuk drum pada umumnya. Gue sebut variasi aja lah ya. Biarin sotoy, yang penting minta izin. 

Dan juga nggak full seperti biasanya, tapi gebukannya sedikit-sedikit berhenti. Dengerin sendiri aja deh pokoknya biar nggak bingung. Tapi, entah mengapa justru akhirnya menjadi part favorit gue di lagu ini.

Kemudian lirik awal masuk (sebelum penggalan ayat Doa Bapa Kami), lalu gitar mulai mengisi. Makin lama tensinya makin naik. Dan klimaksnya di penggalan ayat Doa Bapa Kami tadi.

Hagia ini adalah lagunya yang ngena banget. Pas banget dengan kondisi sekarang. Yang dikit-dikit SARA. Lagu ini menjadi harapan agar setiap manusia saling toleransi, menghargai perbedaan apapun itu. Toleransi, bukan telorasin. Sampai jumpa di #BahasLagu berikutnya.

#BahasLagu Muse - Unintended

Halo, gue udah lama nih nggak posting di blog ini. karena bingung mau nulis apa, nggak ada ide mau nulis apa. Akhirnya ide yang dicari datang juga. Nggak sia-sia meditasi (baca: ngelamun) yang gue lakuin selama ini.

Nah, setelah perlamunan yang kesekian kalinya, muncullah sebuah ide, yaitu membahas lagu-lagu favorit gue. Wah, gue jadi excited banget waktu itu. Karena dengerin lagu udah jadi hobi. 3 kali sehari, setelah makan. Udah kayak minum obat. Jadi kalo dipikir-pikir, bahannya banyak banget. Yes!

Nah, segmen membahas lagu favorit gue ini gue beri judul #BahasLagu. Awalnya sih mau pakai #BedahLagu, tapi istilah itu terlalu medis.

Sebagai pembukaan #BahasLagu ini, gue pilih lagu dari salah satu band favorit gue (karena band favorit banyak), Muse, yang judulnya Unintended.

Judul yang cukup ribet. Bisa bikin lidah kram. Karena lagu ini pertama kali gue tau dan gue dengar pas SMP. Dan lagi, kemampuan bahasa inggris gue pas-pasan banget di zaman itu. Sekarang juga masih dong. Wahaha (kok bangga banget ya? -_-).

Lagu Unintended, dari semua lagu Muse, ini yang paling gampang dimainkan. Chord intronya E B7. Terusannya cuma E Am D G C B7 E. Gitu aja terus, sampe Doraemon jadi adiknya Shinchan.

Lalu, apa kerennya lagu ini? Ya keren bangetlah pokoknya. Si vokalis, Matt Bellamy, yang biasanya bikin lagu penuh distorsi, di lagu ini jadi melow galau. Walaupun susunan chord yang dipake aneh, tapi lagunya easy listening banget. Pas banget buat suasana hati yang sedang galau. Atau bisa juga untuk lagu pengantar tidur.

Tapi, sebenarnya lagu ini bercerita tentang apa sih?
Oke, mari kita lihat video dan liriknya:


MUSE - UNINTENDED

Verse 1
-You could be my unintended choice
Kau mungkin kan jadi pilihan tak
terdugaku
-to live my life extended
untuk menemani hari-hariku
-You could be the one
Kau mungkin kan jadi satu-satunya
-I'll always love
Yang kan selalu kucinta

Verse 2
-You could be the one who listens to
Kau mungkin kan jadi satu-satunya yang mau mendengarkan
-my deepest inquisitions
Segala tanyaku
-You could be the one
Kau mungkin kan jadi satu-satunya
-I'll always love
Yang kan slalu kucinta

Chorus
-I'll be there as soon as I can
Aku kan datang secepat mungkin
-But I'm busy mending broken pieces of the life I had before
Namun, kumasih merajut kepingan hidupku sebelumnya
**(Before you)**
**(Sebelum dirimu)**

Verse 3
-First there was the one who challenged
Mulanya, ada seseorang yang menentang
-All my dreams and all my balance
Semua mimpi dan keseimbanganku
-She could never be as good as you
Dia takkan mungkin sebaik dirimu

----------------

Banyak sekali perdebatan dalam memaknai lagu ini. Itupun gara-gara judulnya. Ada yang bilang Unintended ini berarti "Yang Tak Diharapkan" atau bisa juga "Yang Tak Direncanakan". Tapi, ada juga yang mengartikannya menjadi "Calon Istri / Tunangan".

Gue lebih prefer ke terjemahan yang pertama. Karena di depan kata intinya menggunakan "Un". Yang kurang lebih artinya "bukan / tidak". Seperti yang digunakan pada judul-judul lagu Muse yang lain yaitu Undisclosed, Unnatural, dan Unsustainable.

Udahlah nurut aja ya, biar gue nggak pusing.
Terjemahan:
Udahlah nurut aja, daripada saya bacok.

Di lagu ini ada 3 tokoh, yaitu 'Aku', 'Kau' dan 'Dia' (kayak judul lagunya Dhani ya). Di lagu ini 'Aku' menceritakan kelebihan-kelebihan 'Kau'. Dari awal sampai selesainya lagu.

Bahkan bagi 'Aku', si 'Kau' ini lebih baik dibandingkan 'Dia'. Terbuktikan di lirik "She could never be as good as you".

Di Chorus, 'Aku' mengatakan bahwa akan bersama 'Kau' secepatnya. Tapi butuh waktu, karena 'Aku' masih hancur karena hubungan yang sebelumnya, yaitu dengan 'Dia'.

Karena inilah mengapa disebut Unintended. Si tokoh 'Aku' ini masih hancur karena hubungannya dengan 'Dia'. 'Aku' belum berencana membina hubungan baru lagi, tapi tanpa diduga si 'Kau' ini datang. Bisa dibilang masih merasa kapok untuk membina hubungan lagi. Belum bisa move on.

Secara singkatnya, 'Aku' suka sama 'Kau' daripada 'Dia', tapi 'Aku' belum siap menjalin hubungan baru.

Kurang lebih seperti itu maknanya menurut gue. Dan ini diluar rumor tentang 'penelepon gelap' yang sering diceritakan di berbagai blog di luar sana. Gue memaknainya sesuai dengan lirik yang ada.

Entah benar atau tidaknya ini, tetapi Ariel Noah pernah berkata
"Pendengar memiliki kebebasan untuk memaknai lagu. Sesuai dengan mimpinya."

Yah, asal memaknai lagunya nggak ngawur dan melenceng jauh dari yang dimaksud sih.

Oke, cukup sekian. Sampai jumpa di segmen #BahasLagu selanjutnya.